DEPARTEMENT KASTRAT

Aksi Damai Pemilu 2014

DEPARTEMENT KASTRAT

PENGOBATAN GRATIS BERSAMA DPU-DT

DEPARTEMEN SOSIAL MASYARAKAT

Ngawul

DEPARTEMEN EKONOMI

ADIK-ADIK BINAAN DEPSOSMAS

ZONAMUSLIMNEGRAWAN

Selasa, 15 April 2014

UN untuk Beragam Budaya dan Karakter Anak yang Berbeda apakah masuk akal?




  Sudah dua hari ini, hari sejarah buat siswa SMA tahun ajaran 2014 yang ada diseluruh Indonesia. Dimana goresan tangannya diatas lembar jawaban ujian menentukan nasibnya. Ujian Nasional yang tiap tahunnya pasti sama. Hanya demi satu kata lulus atau tidak lulus.
   Ujian Nasional adalah Penentuan standar mutu pendidikan yang ada di Indonesia ini yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas. Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Rasanya tidak adil sekali jika mereka telah mengenyam pendidikan selama 12 tahun hanya ditentukan dengan sebuah predikat kata "lulus atau tidak lulus". Bagaimanakah perasaan mereka pada saat itu. Tentunya mereka sangat was-was. Dan malahan bukan mereka memikirkan Ujian yang akan dihadapi,tetapi pasti mereka akan tersugesti dengan kata "Apakah aku lulus atau kah tidak lulus?" karna kata itu sebagai patokan kalau "Lulus" berarti anak yang pintar,dan kalau "Tidak Lulus" berarti kurang pintar. Pasti setiap masyarakat akan beranggapan seperti itu. Bukankah itu akan menjadikan mental anak malah semakin down? dan banyak anak yang putus harapan? Harapan kita semua memang tidak menginginkan hal seperti itu.
  Mungkin negara kita memang sedang ingin mencontoh negara-negara maju,agar negara kita juga termotivasi untuk maju. Kebijakan pemerintah memang sangat bagus untuk memajukan negara Indonesia. Tetapi apakah pemerintah juga memikirkan bagaimana nasib para pelajar yang berada dikota yang terisolir,kota yang masih terbelakang. Kota yang masih sangat kurang tingkat pendidikannya. Contohnya saja mereka yang berada di di Kalimantan yang pelosok desa dengan Jakarta. Kebudayaan dan karakter anak-anak disana dengan Jakarta mungkin sangat berbeda sekali. Anak-anak yang berada dipelosok yang mungkin sangat ketinggalan dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi,dibandingkan dengan anak yang tinggal dikota Jakarta yang akses apapun serba dimudahkan. Rasanya terlalu kurang adil jika kita memaksakan hal yang bukan seharusnya. Ibaratnya dalam sebuah keluarga ada 2 anak kakak beradik. Satu anak SD satu  anak SMP. Tidak mungkin keluarga nya memberi uang saku yang sama atau tidak mungkin mereka diberi soal pekerjaan yang sama,karna kebutuhan dan tenaga mereka sangat lah berbeda. Sama halnya dengan mereka anak-anak yang masih terisolir,kebutuhan pendidikan serba kekurangan harus bersaing dengan anak-anak yang pendidikannya sudah maju, karna yang tahu kualitas pendidikan itu adalah pendidik atau guru yang berada pada lingkungan pendidikan tersebut. 
  Dengan adanya UN juga negara kita tidak malah semakin maju tingkat pendidikannya. Pendidikan kita malah semakin ketinggalan jauh dengan negara lain. Berbeda jauh dengan pendidikan yang sebelumnya tanpa UN,negara kita hampir memasuki sepuluh besar. Dan banyak negara lain yang malah belajar ke Indonesia.Karna sebenarnya UN hanya mengukur nilai akademik saja,tanpa tahu nilai sosial dan nilai karakter anak didik,sedangkan yang mengetahui nilai akademik,nilai karakter dan sosial anak adalah pendidik. Jadi nilai UN baik bukan pula menjamin negara ini baik. Karna baiknya suatu negara adalah baiknya karakter dan kepribadian anak. Dengan UN juga malah membuat anak-anak didik akan belajar dengan instan. Hanya mentargetkan agar mendapat kata "Lulus".



By : Rofiyani (Sekertaris Departemen Humas 2014/2015)
   

Senin, 14 April 2014

Semangat Ngawul

  
Semangat tanpa batas

 Pagi ini dari Departemen Ekonomi KAMMI IKIP PGRI Semarang kembali menggelar aksinya. Kali ini pertama kalinya dikepenggurusan 2014/2015 Departemen Ekonomi yang ketua departemen kali ini dipimpin oleh ukhtina Susi Setyoningsih. 
   Agenda Departemen Ekonomi kali ini adalah "Ngawul". Aksi yang dilaksanakan setiap hari akhad pagi sekitar jam 06.00 di Stadiun Diponegoro. Aksi ngawul kali ini dibantu oleh Ketua Komisariat (Akhina Apri Supriyanto),Ketua Departemen Kajian Strategis( Akhina Purwanto sigit),Sekertaris umum (ukhtina Lilikayani Toatubun), Biro Kestari (Ukhtina Kholifaturrosidah), dan Ketua Departemen masyarakat (ukhtina Puji kristina Dewi) serta dibantu oleh sekertaris departemen kaderisasi (akhina Zidni Ilman nafi) dan Humas (Ukhtina Rofiyani). Dan selain itu juga banyak akhwat yang ikut serta membantu aksi Ngawul kali ini. 
    Mungkin aksi Ngawul kali ini adalah bagian hal yang terbaru sekaligus pengalaman bagi para kader pada kepengurusan tahun ini. Walaupun dari sebagian yang lain adalah hal yang biasa aksi ngawul ini dilakukan. Yang paling pasti semangat pengorbanan tanpa batas itu terlihat dari para kader. Semangat yang rela kepanasan diterik matahari dan semangat melawan malas yang seharusnya hari libur digunakan untuk istirahat dirumah bersama keluarga. Tetapi semangat para kader KAMMI tidak terkalahkan. 
     Bagi para kader semangat ukhuwah islamiah itu yang paling penting. Dan dari Ngawul itu juga banyak bisa kita petik pelajarannya, seperti hal nya bagaimana kita bisa berbisnis yang mandiri dan bagaimana kita bisa membaur dengan masyarakat itulah yang paling penting. Karna KAMMI untuk masyarakat,KAMMI untuk Indonesia.


Aksi Ngawul "Alhamdulillah ramai pembeli"




By : Rof iyani (Sekertaris Departemen Humas )
    

Minggu, 13 April 2014

Mencari Makna Kehidupan yang Sempurna

Aku ingin mencari
Jalan menuju sebuah hati
Menelusuri hidup yang penuh dengan fiksi
Dilautan tanpa ombak dan tanpa nyanyi 


Aku ingin bermakna
Tenggelam dalam setiap bait prosa
Tertulis dalam jutaan karya
Dan takkan lekang oleh masa


Aku ingin kehidupan
Walau sekali tapi tak terlupakan
Bukan hanya sekedar mencari kekayaan
Tapi ingin memilki ketaqwaan


Aku jauh dari kata sempurna
Semakin aku belajar, semakn aku mengetahuinya
Bahwa  aku masih banyak tidak tau apa-apa
Tapi aku sadar bahwa hidup ini sangat bermakna..


By: Ardi Setyo Wibowo ( Ketua Departemen Humas 2014/2015)

Landasan Semangat Pergerakan KAMMI

    Semangat pergerakan KAMMI pada tahun 1998,telah menorehkan tinta emas didalam kamus sejarah bangsa indonesia. Ditengah semrawutnya perpolitikan pada waktu itu,ditengah ketidak percayaanyang semakin memuncak terhadap penguasa yang dzalim secara posisi strategis KAMMI menjadi icon gerakan yang mampu mendobrak kebekuan,yang mampu menaklukan ketakutan menjadi sebuah keberanian.Kini sudah enam belas tahun silam KAMMI terlahir ke pentas pergerakan mahasiswa,berawal dari sebuah pergerakan mahasiswa,berasal dari sebuah gerakan Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Tepatnya pada tanggal 29 Maret 1998 di Malang yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
     Tentu ini menjadi sebuah referensi gerakan KAMMI masa kini,kalau dulu gerakannya begitu sangat terlihat dengan sebuah "Aksi Jalanan" yang heroik sampai menurunkan soeharto turun dari singgasananya tentunya tanpa mengesampingkan organisasi mahasiswa yang lain. Hari ini KAMMI ingin memastikan bahwa KAMMI hadir sebagai gerakan baru sebagai perekat dan pemersatu sebuah keragaman serta sebagai icon penggerak yang siap memberikan tawaran solusi untuk perbaikan bangsa dan kita persemabahkan hanya untuk Allah SWT. Semangat ini akan terus berkorbar, potensi yang ada di KAMMI akan terus dioptimalkan. KAMMI pun tidak akan menutup mata dan telinga terhadap realitas bangsa saat ini.
        Tentu ada dua hal yang membuat KAMMI akan terus bertahan sampai sejauh ini pertama adalah sebuah harapan serta optimisme yang dibangun berdasarkan aspek ruhiyah yang tak pernah kering. Kita dapat ambil contoh didalam medan badar meskipun jumlah musuh kekuatannya tiga kali lipat lebih besar namun Allah SWT memenangkan tentara islam. Al Imam Hasan Albana mendiskripsikan kader-kader berkualitas itu laksana rahib (ahli ibadah) dimalam hari dan seperti penunggang kuda disiang hari artinya adalah frekuensi gerakan ini harus seimbang dengan kualitas ruhiayah. Yang kedua totalitas manajemen, sebuah keutuhan komitmen didalam memposisikan diri,bahwa sebuah organisai manapun harus bertumpu pada sebuah keutuhan komitmen. Khususnya KAMMI ini berbicara mengenai keutuhan komitmen ini AsySyahid Hasan Albana,mengatakan "iman tidak akan mempunyai arti bila tidak disertai amal. Aqidah tidak akan memberi manfaat bila tidak mendorong penganutnya untuk berbuat dan berkorban demi menjelmakannya menjadi kenyataan".
          Keyakinan inilah yang perlu kita tumbuh dan kembangkan kedalam setiap diri masing-masing, KAMMI diisi oleh anak muda yang punya energi yang jauh lebih besar,punya gagasan yang jauh lebih hebat. Dari situlah kader KAMMI harus bisa memecahkan mitos ketidak mungkinan atau ketidak berdayaan menjadi pasti bisa dan berdaya! Saya percaya KAMMI punya suplemen itu semua asalkan kita terus mayakini bahwa kejayaan sebuah perjalanan sejarah hidup kita harus dilandasi dengan semangat keikhlasan! Mari Beramal Nyata...

SALAM MUSLIM NEGARAWAN

Apri Supriyanto (Ketua Komisariat IKIP PGRI Semarang 2014/2015)