DEPARTEMENT KASTRAT

Aksi Damai Pemilu 2014

DEPARTEMENT KASTRAT

PENGOBATAN GRATIS BERSAMA DPU-DT

DEPARTEMEN SOSIAL MASYARAKAT

Ngawul

DEPARTEMEN EKONOMI

ADIK-ADIK BINAAN DEPSOSMAS

ZONAMUSLIMNEGRAWAN

Senin, 01 Oktober 2012

Catatan AksiKu Untuk KAMMI

Awan biru menjadi payung disiang itu. Matahari mulai meninggi menanda pagi telah berlalu. Dengan hati deg-degan ku tetap berdiri di barisan yang rapi. Berdiri di tengah akhwat-akhwat yang tak kukenal. Terbagi 2 barisan ikhwan dengan akhwat yang terhijab berapa meter. Yang ku tahu di garis terdepan shaf akhwat ada mba Dini, senior yang mengajak ku berpanas ria. Terlihat Mba dini dengan semangat membawa spanduk bertuliskan misi yang tak kumengerti. Dengan slayer yang menutupi wajahnya,  mba Dini berniat menghindari wartawan yang ingin mendokumentasikan. Ku hanya diam untuk memahami suasana ketika itu. Tatapan penuh tanya kulempar di jejeran gedung bertingkat yang dihadapanku. Inilah pertama kali ku injak kaki ditempat itu.
Seorang ikhwan mulai berorasi. Isu yang sedang hangat menjadi topik. Ku tahu topik itu menjadi terdepan di tayangan berita stasiun tv swasta di sepanjang malam. Ku tetap menyimak meski tak paham apa yang dikatakannya. Tetesan – tetesan keringat mulai memenuhi wajahku, ku hanya menyapunya dengan tisu yang telah kusediakan dari awal. Ku berharap segera usai. Terlihat ibu baruh baya hanya tersenyum melihat kelakuan kami atau 2 siswi SMA dengan sinisnya menatap spanduk-spanduk yang tertampang jelas dipinggir jalan. Ku terus menunduk, menahan malu. Apa yang telah kulakukan di hari itu?

PENDENGAR RADIO JADI JAGOAN NEGERI

          Subuh, subuh Nang,,, bangun cepat Nang,!!Itulah panggilan akrab khas di Jawa untuk laki-laki bernama Parito Darminto dari ibunya yang bernama Fitri Cahyani. Dengan gelegat tubuh sedikit Parito tidak kunjung bangun oleh teriakan ibunya tadi. Baru dia sadar dan bangun saat dia teringat pagi itu dia akan membuat kejutan untuk teman-temannya yang ada di permukiman jauh disana. Tempat tinggal Parito memang sudah tidak begitu jauh dari keramaian kota yang sudah dikenal dekat oleh parito. Saat ini parito adalah seorang mahasiswa di universitas terbuka cabang terdekat dikotanya dan hidup berkecukupan dalam kesehariannya. Mahasiswa yang akrab dipanggil  dengan Rito itu hidup dengan ibunya yang paling dia hormati, sedangkan ayahnya sudah meniggal saat ia masih dalam kandungan. Oleh karenanya Rito dididik oleh ibunya sejak kecil dari mulai ibunya menjadi seorang pengumpul barang-barang bekas. Bisa dimaklumi saat itu kehidupan keluarganya masih serba kekurangan sehingga si kecil Rito dibawa dalam gendongan ibunya kemana-mana untuk mencari barang-barang bekas buat ditukarkan dengan uang untuk makan keseharian keluarganya. Tetapi sekarang Rito benar-benar menatap masa depan demi kesuksesannya dia bertekad akan membanggakan ibunya. “Hidup itu sempit jika kau tak menggali, hidup itu luas jika kau bisa mengembangkannya” kata-kata itu selalu dia kenang sampai saat ini. Itulah kata-kata yang diberikan oleh seseorang yang sampai sekarang ia nanti kedatangannya.

Galih yang lain

“Aksi,,, lagi lagi aksi..huh bete”, grutuku
“ Katanya aktivis, kok kepanasan aja dah nyerah”, pancing mas Yusuf disampingku.
“Gak ketemu mas Galih tadi”, sambil kumanyunkan bibirku sebagai ungkapan kekecewaanku.
“Itu sih niatnya belum jelas, makanya lurusin niat dulu, biar kegiatan yang kita lakukan tambah berkah, kalo gini kan kamu malah capek sendiri yang didapat, apalagi niat kamu Cuma ingin ketemu mas Galih, itu mah sudah keluar dari konteks kredo gerakan  adekku sayang…”, ceramahnya panjang lebar.
“Tau ah mas, pusing”, jawabku sambil ngeloyor pergi meninggalkan mas Yusuf sendirian di teras.
            Banyak yang bilang kini aku berubah, ya, aku kini berubah, bukan hanya mama dan papa yang bilang, tetapi mas Yusuf pun ikut mengomentari perubahanku ini. Bahkan teman-teman dikampus juga mengatakan demikian, terlebih lagi teman sekelasku.
“Kamu sekarang beda ya Sa?”, Tanya Anita sore itu.
“Kamu sekarang aktif banget ikut kegiatan, ajak-ajak dong Sa?”, komentar doni komting kelasku.
“Wah sekarang Sasa lagi kena virus merah jambu ya?”, celetuk Hana dan Ridwan bersamaan.
Aku hanya bisa nyengir kuda mendengar komentar mereka tanpa berkutik, hanya rona merah diwajah yang terlihat jelas.
“Apa sih, resek deh”, jawabku tiap kali digoda mereka.

Senin, 24 September 2012

Untukmu MABA

Jadi calon guru tapi gak pinter ngomong??? yuuk ikutan TPS (Training Public Speaking)....edisi terbatas.

Jaket dari Sahabat

Aku berjalan selangkah demi selangkah menuju kursi itu. Panasnya terik mataharipun tak terasa mulai menusuk kulitku. Aku termenung, dan hanya bisa menghela nafas kekecewaan, “Hemh, seandainya. ., waktu dapat terulang kembali, aku pasti tidak akan menyesal seperti ini.”  Tiba tiba saja ada yang menepuk bahu sebelah kiriku, “Kamu lagi ngapain disini Citra?”, “Ngelamunin aku yha?, hayo ngaku aja deh, pasti ngelamunin aku, iyha kan Cit?”, Revi mengejek.
“Apaan sih, ga kok lagi galau aja mikirin kamu” sahut Citra.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya, sekeping hati terasa dibawa lari menuju masjid seberang rumahnya. Wajahnya memerah, dan matanya terlihat membengkak, akibat derasnya air mata yang membasahi pipinya seusai sholat dhuha. Citrapun bergegas menghapus air matanya, setelah terlihat bayangan seorang gadis mendekatinya.
“mba ini kenapa, kok nangis?” tanya Vina begitu keheranan. Seketika Citra memeluk gadis itu erat erat, tanpa pikir panjang dan rasa takut. Vina lekas lekas menyambut pelukan gadis yang belum dikenalnya itu. Setengah jam lamanya Citra menangis, dia pun tersadar dan melepas pelukannya perlahan.

Senin, 10 September 2012

10 Wasiat Imam Hasan Al-Banna

1.Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

2.baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an, berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya

3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4.Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.

5 Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.