Aksi Damai Pemilu 2014
DEPARTEMENT KASTRAT
PENGOBATAN GRATIS BERSAMA DPU-DT
DEPARTEMEN SOSIAL MASYARAKAT
Ngawul
DEPARTEMEN EKONOMI
ADIK-ADIK BINAAN DEPSOSMAS
ZONAMUSLIMNEGRAWAN
Rabu, 24 April 2013
Ujian? Jangan Khawatir..!!!
|
Ujian seringkali memang menjadi momok bagi para siswa dan
mahasiswa. Mereka merasa khawatir dan takut tatkala ujian tiba.
Entah itu Ujian Tengah Semester [UTS] maupun Ujian Akhir
Semester bagi mahasiswa.
Sedangkan bagi siswa, bisa berupa ulangan harian, test sumatif atau sejenisnya.
Kekhawatiran
yang seringkali muncul memang cukup beralasan. Maklum,
sebagian besar nilai beragam test atau ujian akhirnya berpengaruh pada
nilai akhir. Baik itu rapor untuk siswa, atau Indeks Prestasi
(IP) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bagi kalangan
mahasiswa.
Tak hanya itu, ada beberapa sikap dan
kondisi di kalangan pelajar dan mahasiswa yang turut
berpengaruh dalam menyelesaikan test dan ujian. Misalnya,
gugup dan berkeringat dingin. Selain itu, materi yang sudah
dipelajari dengan baik bisa hilang begitu saja tatkala
menghadapi kertas ujian.
Kekhawatiran
yang berlebihan akhirnya bisa mengakibatkan pelajar dan
mahasiswa gagal menempuh test dan ujian. Buntutnya, nilai rapor
dan IPK jadi buruk.
Sesungguhnya,
kekhawatiran itu tidak perlu terjadi, jika semuanya
dipersiapkan dengan matang. Hal tersebut bisa dimulai dari upaya
memperingatkan pada diri pelajar dan mahasiswa sendiri, bahwa
ketika melaksanakan ujian, mereka sedang mendemonstrasikan
kemampuannya dalam memahami materi kuliah, pelajaran, atau
dalam tugas-tugas tertentu. Selain itu, ujian memberikan
dasar evaluasi dan penilain terhadap perkembangan belajar
mereka.
Di bawah ini, ada sepuluh tips bagi Anda, para pelajar dan mahasiswa. Simaklah dengan teliti.
oleh vita, mat/2009
|
Rabu, 20 Maret 2013
STRUKTUR 2013/2014
STRUKTUR
PENGURUS KAMMI IKIP PGRI SEMARANG
PERIODE
2013/2014
Ketua Umum : Aldin Ramdani
Sekretaris Umum : Diandaru Kuncorowati
Biro Kestari : Desti Hartiwi
Bendahara Umum : Maknunah
Departemen Kaderisasi
Kadep : Siti Hasmah
Sekdep : Indah Jauharin Alfiati
Staf::
1. Faisal
Abdan Azizi
2. Lutfi
Hadi Saputro
3. Yunita
Sari
4. Resa
Faesal Darmawan
5. Lisa
Sulistiyani
6. Winda
Desmita
7. Doni
Estanto
Departemen Kajian Strategis
Kadep : Apri Supriyanto
Sekdep : Safrina Yulistiani
Staf::
1. Purwanto
Sigit
2. Vina
Vatkhiyatur Rizkillah
3. Tabbaheru
Miftah
4. Nur
Ardianita
5. Syarah
Akmaliyah
6. Lilis
Nur Indah Sari
7. Titik
Nurul Anisa
Sabtu, 09 Maret 2013
Profil KAKOM Pertama
Khamdan Muhaimin, begitulah nama lengkap Ketua Komisariat Pertama IKIP PGRI Semarang, pria
yang pernah menjadi Ketua Umum HIMA Prodi Pendidikan Psikologi dan Bimbingan
ini lahir di Banjarnegara, 16 Juni 1987. Beliau juga pernah mengajar di Ende,
Nusa Tenggara Timur dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Tertinggal,
Terluar dan Terdepan) ini telah
melanglangbuana mengikuti berbagai organisasi kampus yang mengantarkan beliau
menjadi Leader di KAMMI IKIP PGRI
Semarang yang pada saat itu merupakan masa transisi dari sebelumnya berstatus
koordinator kampus menjadi sebuah komisariat dengan awal kepemimpinanan masih
mempunyai dua departemen yaitu departemen kaderisasi dengan menyiapkan kader
yang mempunyai karakteristik
ke-Islaman, akidah, akhlaqul karimah, kepemimpinan, intelektual dan departemen kastrat yang bergerak di bidang pematangan kepemimpinan politik ,dan sumbangsih bagi perubahan bangsa.
Dengan berbekal dua
departeman yang dimilikinya, beliau tidak menyerah untuk membangun dan belajar
dari rekanan antar komisariat maupun dari yang lainnya dengan rasa malu,
canggung untuk bertanya harus dihilangkan dan, setiap momen selalu digunakan
untuk belajar bagaimana menggerakkan seluruh pengurus yang berada di komisariat
demi mencapai visi KAMMI, belajar mencerdaskan kader untuk memahami ideologi
islam, berpengetahuan dan berkontribusi kepada pemecahan problematika umat.
Awal mula beliau merasa
mempunyai tanggung jawab yang besar kepada umat seluruh alam ketika beliau
merasakan efek dengan ucapan syahadat yang lantang dan berikrar sebagai kader
KAMMI, dimana untuk menjadi manusia baik itu tidak sendiri, jangan menjadi
manusia egois, banyak saudara-saudara kita yang masih membutuhkan nasehat untuk
menjadi lebih baik mengapa kita tidak ajak menjadi orang soleh dan berwawasan
luas. KAMMI mengajarkan semua
kepadanya, beliau bersyukur karena Allah mempertemukan beliau dengannya hingga
selalu berusaha menjadi insan yang bertaqwa. Segala pengorbanan dan perjuangan
akan terasa ringan ketika kita ingin mendapatkan ridho dari Allah swt bukan
yang lain.
Pria yang saat ini menempuh Pendidikan Profesi Guru di
Universitas Negeri Semarang juga berbicara tentang kepemimpinan bahwa KAMMI yang berdiri pada masa transisi reformasi mempunyai visi menjadi
wadah perjuangan permanen dalam mencetak pemimpin masa depan yang tangguh dalam
rangka mewujudkan masyarakat islami di Indonesia. Ada beberapa poin penting
dalam mendesain kader KAMMI yaitu mampu menciptakan kader yang berorientasi
pada profil muslim negarawan. Reorganisasi KAMMI IKIP PGRI Semarang merupakan
momentum perbaikan menuju organisasi yang lebih solid. KAMMI IKIP PGRI Semarang
sebagai wadah untuk melahirkan pemimpin masa depan harus mampu mencetak sosok
pemimpin yang memiliki basis ideologi islam yang mengakar, basis pengetahuan
dan pemikiran yang mapan, idealis, konsisten, berkontribusi pada pemecahan
problematika umat dan bangsa serta menjadi perekat komponen bangsa pada upaya
perbaikan. Dengan ini pemimpin KAMMI IKIP PGRI Semarang dapat menjadi pelopor.
Bagaimana jika seorang muslim negarawan yang menjadi dasar kepemimpinan di
lembaga dakwah kampus dapat melahirkan
seorang pemimpin yang memiliki basis ideologi islam mengakar, basis pengetahuan
dan pemikiran yang mapan, idealis, konsisten, berkontribusi pada pemecahan
problematika umat dan bangsa serta menjadi perekat komponen bangsa, maka
terjawab sudah kejayaan islam di muka bumi ini dengan mempunyai sosok pemimpin muslim
negarawan. KAMMI sudah berumur maka sudah sepantasnya menunjukan eksistensi
dakwah.
Terakhir beliau juga berpesan kepada
kader KAMMI bahwa diawal pembentukan komisariat tampak betul perjuangan
dan pengorbanan dari para senior kader dakwah dikampus IKIP PGRI Semarang, rasa
keprihatinan dengan kondisi dakwah yang masih lemah menjadikan semangat untuk
mengubah kearah yang lebih baik , maka dibutuhkan sentuhan sentuhan dakwah yang
hangat untuk menciptakan generasi islam terbaik. KAMMI muncul sebagai salah
satu organisasi atau wadah perjuangan mahasiswa muslim untuk berfastabiqul
khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan mengaktualisasikan diri sesuai
dengan potensi diri masing-masing. Cintailah jalan ini karena kalau kita sudah
cinta maka semua akan kita lakukan demi cinta dan akan terasa ringan jika kamu
bekerja dengan rasa cinta, cintailah dakwah ini semoga Allah selalu menguatkan
dan memudahkan langkah kita dalam berdakwah. Aamiin.
Rabu, 06 Maret 2013
Menggagas KAMMI 2013: Mahasiswa Tak Sekadar Turun ke Jalan
Masih relevankah
gerakan mahasiswa setelah reformasi menapaki usianya yang ke 15?
Harus diakui, setelah Suharto jatuh pada tahun 1998, gerakan mahasiswa seperti kehilangan ‘lawan’. Banyak gerakan yang mencoba beragam pilihan gerak, dari mulai gerakan sosial, gerakan politik, gerakan massa, hingga gerakan intelektual yang lebih kreatif. Pilihan gerakan itu, apapun bentuknya, sah-sah saja. Tetapi, ada satu hal yang terlupakan: pembentukan wacana. Apapun bentuknya, selama berada dalam satu wacana besar, akan memberi nafas yang lebih panjang dan gerak yang lebih teratur bagi gerakan mahasiswa.
Memasuki
2013, pertanyaan tersebut semakin penting untuk dijawab dan direfleksi bersama
oleh para aktivis mahasiswa. Selama lima tahun terakhir, ada satu catatan besar
yang perlu dievaluasi dari gerakan mahasiswa saat ini: tidak adanya wacana
besar yang mengikat dan mempersatukan perjuangan gerakan mahasiswa.
Harus diakui, setelah Suharto jatuh pada tahun 1998, gerakan mahasiswa seperti kehilangan ‘lawan’. Banyak gerakan yang mencoba beragam pilihan gerak, dari mulai gerakan sosial, gerakan politik, gerakan massa, hingga gerakan intelektual yang lebih kreatif. Pilihan gerakan itu, apapun bentuknya, sah-sah saja. Tetapi, ada satu hal yang terlupakan: pembentukan wacana. Apapun bentuknya, selama berada dalam satu wacana besar, akan memberi nafas yang lebih panjang dan gerak yang lebih teratur bagi gerakan mahasiswa.
Mari kita ingat-ingat kembali tiga ciri gerakan mahasiswa adalah
membangun gerakan intelektual dengan membiasakan tiga budaya (tradition),
Membaca, Diskusi, dan Menulis. Nah jika gerakan mahasiswa sudah jauh dari
gerakan intelektual ini maka, apa lagi yang akan dibanggakan menajdi seorang
mahasiswa. Membaca kita jarang, menulis kita malas dan diskusi kita tidak
pernah.. apakah layak dikatakan mahasiswa?
Dalam konteks kekinian melihat
gerakan mahasiswa semakin mengalami kekerdilan. Sungguhnya menyedihkan kampus
hanya seperti menara gading saja. Hari ini kampus telah mati dari jiwa-jiwa
gerakan. Mau tidak mau memang itu lah kondisinya. Kampus tak lagi menjadi
indah,, yang dahulunya pernah melahirkan orang-orang yang berpikir besar..dan
kritis terhadap permasalahan-permasalahan masyarakat.
Cerita
di Chile dan Montreal bisa jadi renungan. Di dua negara ini, aktivis mahasiswa
mampu menjadikan isu anti-komersialisasi pendidikan sebagai arena pertarungan
wacana melawan rezim neoliberal. Dari sekadar menolak kenaikan uang kuliah yang
diikuti dengan demonstrasi ratusan ribu massa mahasiswa, isu bergulir menjadi
perdebatan soal rezim politik. Sehingga, perjuangan mahasiswa tidak lagi
sekadar ‘turun ke jalan’ rasionalisasi tuntutannya secara jelas. Sudah saatnya
gerakan mahasiswa merumuskan tuntutan dan wacananya sendiri. Mungkin, dengan
cara itu, kita akan lebih optimis untuk menjawab bahwa gerakan mahasiswa masih
relevan di tahun 2013.
Berangkat dari hal inilah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia (KAMMI) Komisariat IKIP PGRI SEMARANG
mengajak teman-teman mahasiswa : “Gerakan KAMMI Menulis: menulis untuk
membangun negeri. One day one article for Indonesia’s bright future”.(Kusaeri S.Pd)
Dikutib dari berbagai sumber













