Selasa, 22 Mei 2012

Resume Buku



Dari Gerakan ke Negara
( M Anis Matta)


Sebuah rekontruksi negara Madinah yang dibangun dari bahan dasar sebuah gerakan.
Sebuah episode baru dalam sejarah dimulai, sebuah gerakan telah berkembang menjadi sebuah negara dan sebuah negara telah bergerak menuju peradabannya,sebuah agama telah menemukan “orang-orangnya”, setelah itu mereka akan menancapkan “bangunan peradaban” mereka. Tanah, dalam agama ini, adalah persoalan kedua. Tanah hanya akan menjadi penting ketika komunitas “manusia baru” telah terbentuk dan membutuhkan wilayah territorial untuk bergerak secara kolektif, legal, dan di akui sebagai entitas sebuah politik. Hijrah dalam sejarah da’wah Rasulullah saw., adalah sebuah metamorfosis dari “gerakan” menjadi negara. Dengan hijrah, gerakan itu “menegara” dan madinah menjadi wilayahnya. Allah SWT menurunkan perangkat sistem yang dibutuhkan maka turunlah ayat-ayat hukum dan berbagai kode etik sosial, ekonomi, politik dan keamanan lainnya. Dan lengkaplai susunan kandungan sebuah negara: manusia,tanah dan sistem..
Sebuah negara yang baru dibangun memang membutuhkan : membangun infrastruktur negara, menciptakan kohesi sosial,nota kesepakatan serta merancang sistem pertahanan negara. Perangkat utama yang diperlukan untuk menegakkan negara: sistem, manusia, tanah dan jaringan sosial.
Setelah perang khandaq berakhir maka perubahan perjuangan kaum muslimin berubah menjadi Ekspansi. Bergerak menuju perubahan perdaban dimana islam datang membuka gerbang-gerbang peradaban dunia ( parsi dan  romawi). Inilah proses awal globalisasi islam.
Maka tugas peradaban kita saat ini adalah pendekatan jarak itu.  Jarak yang terbentang jauh antara peluang islam menjadi ideologi dunia dengan kemampuan untuk merebut peluang tersebut. Tiga langkah peradaban kita saat ini adalah pendekatan jarak itu ; jarak antara islam dan manusia muslim,  jarak antara peluang  peluang dengan kemampuan untuk merebutnya. Manusia muslim harus dikontruksi ulang dalam 3 tahapan; memperbaharui afiliasi kepada islam, mendistribusi (hakekat dakwah) serta optimal dalam mendistribusi.
Sembilan aspek pendidikan bagi muslim unggulan. Tak ada guru sehebat Nabi Muhammad saw dan tak ada murid sehebat sahabat radhiallahu’anhum. Ummat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya itu. Berbagai usaha dilakukan para ulama dari berbagai zaman untuk menggali dan merumuskan manhaj Rasullulah, serta tahap-tahapnya mendidik muslim generasi pertama menjadi manusia-manusia unggulan sepanjang masa. Diantara ulama agung itu adalah ibnu qayyim al-jaujiziyah. 9 jenis tarbiyah yang digali ibnu qayyim; Tarbiyah imaniyah (mendidik iman); tarbiyah ruhiyah, tarbiyah fikriyah, tarbiyah athifiyah (mendidik perasaan); tarbiyah khuluqiyah ( mendidik akhlak); tarbiyah ijtimaiyah 9 mendidik bermasyarakat); tarbiyah iradiyah ( mendidik cita-cita); tarbiyah badaniyah ( pendidikan jasmani) serta tarbiyah jinsiyah (pendidikan seks).
Peradaban selalu bermula dari gagasan. Peradaban besar selalu lahir dari gagasan-gagasan besar. Dan gagasan-gagasan besar selalu lahir dari akal-akal  raksasa. Jumlah sahabat yang ditinggalkan Rasulullah memang sedikit tetapi mereka semua membawa semangat dan kesadaran sebagai pembangu peradaban dan membawa talenta sebagai arsitek peradaban.
Terdapat 4 mitos yang mempertanyakan syariat islam bahwa syariat tidak lagi relevan,tidak manusiawi,masyarakat tanpa dosa seta politik historis. Terobosan syariat; menunjukkan adanya political will yang jujur dan kuat,memenangkan wacana publik dengan mengkomunikasikan islam kepada masyarakat, menggunakan bahasa kenyataan.
Dalam wacana pemikiran nasional, biasanya ada mitos yang mempertentangkan islam dan nasionalisme. Nasionalisme meletakkan keberagaman atau pluralisme sebagai konteks utama dimana kita berusaha menemukan ikatan dasar yang mengikat atau menyatukan sebuah negara bangsa. Dan islam dalam konteks keberagaman itu, adalah salah satu elemen.
Fenomena disintegrasi juga dapat dipahami dari perubahan-perubahan mendasar yang terjadi dalam teori negara. Apabila gejala disintegrasi berlanjut pada reruntuhan sebuah negara, maka biasanya terjadi adalah hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan dan kapasitas sebuah negara model untuk mewadahi kepentingan-kepentingan pragmatis masyarakat. Sekarang lingkungan strategis kita berubah secara mendasar setelah era globalisasi,dimana salah satu implikasinya adalah melemahnya fungsi teritorial dalam konsep negara bangsa.
Jamaah adalah alat yang diberikan islam bagi umatnya untuk menghimpun segenap umat islam. Jamaah juga cara paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan pada individu. Kebutuhan setiap individu untuk bekerja atau beramal islami didalam dan melalui jamaah, bukan lahir dari kebutuhan untuk efektivitas, efisiensi dan produktivitasnya tapi juga lahir dari kebutuhan untuk bekerja dan beramal islami pada level yang setara dengan tantangan zaman kita. Jauh lebih realistis untuk mencari jama’ah yang efektif ketimbang mencari jamaah yang ideal. Jamaah yang efektif bisa dikatakan bila; ikatan akidah bukan kepentingan; jamaah itu sarana bukan tujuan; sistem bukan tokoh; penumbuhan bukan pemanfaatan;mengelola perbedaan bukan mematikannya.
Tabiat-tabiat ijtihad dakwah menjaga keseimbangan antara fiqih wahyu dan fiqih realitas. Ijtihad adalah upaya memaksimalkan yang kita lakukan untuk menemukan kebenaran dalam suatu hukum atau sikap. Da’wah adalah upaya-upaya maksimal yang kita lakukan untuk memberlakukan teks-teks wahyu dalam ruan dan waktu manusia. Ijtihad dakwah adalah upaya-upaya maksimal yang kita lalukan untuk menemukan kebenaran hukum atau sikap dalam proses penerapan teks-teks wahyu dalam kerangka ruang dan waktu manusia. Yang ingin kita capai dalam ijtihad da’wah adalah mempertemukan kebenaran(substansi hukum dan sikapnya) dan ketepatan(konteks waktu dan ruangnya).
Bukti gagalnya sekularisasi yaitu munculnya ikhwanul muslimin 1928, gerakan islamisasi kampus, suksesnya kudeta putih di sudan 1987, jihad afghanistan selama 14tahun dengan runruhnya uni soviet 1991, proses demokratisasi.
Dalam sejarah pergerakan islam, ada sebuah fakta berulang bahwa sebagian besar musibah yang menimpa da’wah dan harakah selalu datang dari dalam harakah itu sendiri.
Syarat-syarat kesiapan menuju penerapan syariat islam yang paripurna yaitu adanya komitmen dan kekuatan aqidah; supremasi pemikiran islam; sebaran kultural yang luas; ketrampilan akademis; kompetensi eksekusi;kemandirian material; kapasitas pertahanan yang tangguh; koneksi internasional; tuntutan politik.
Aspek-aspek ketahanan harakah: ketahanan aqidah, fikrah dan manhaj; ketahanan struktural; ketahanan sosial; ketahanan keamanan serta kekuatan logistik.
Kalau kita menyusun lapisan-lapisan kepentingan kita dalam konteks pemilihan pemimpin nasional saat ini kira-kira seperti ini: kepentingan tertinggi kita tentu kepentingan bangsa selanjutnya kepentingan umat islam; kepentingan periodik da’wah.
Masalah di ujung abad. Ketika Rasulullah menyatakan sebuat ketepatan sejarah, bahwa di ujung setiap putaran seratus tahun Allah SWT akan membangkitkan seorang pembaharu yang akan mempebaharui kehidupan keagamaan umat ini. Ketepatan itu menjadikan masa satu abad sebagai sebuah besaran waktu yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan masalah,rotasi pola persoalan-persoalan hidup. Ketetapan itu juga menyatakan fluktuasi dalam sejarah manusia, masa pasang dan masa surut, masa naik dan masa turun. Dan titik terendah dari masa penurunan itulah Allah akan membangkitkan seorang pembaharu yang menjadi lokomatif reformasi dalam kehidupan masyarakat. (SH)

0 komentar:

Poskan Komentar